Featured

Buku Totto-chan

imagesNAMA BUKU : Totto-chan gadis cilik di jendela

PENGARANG: Tetsuko  Kuroyanagi

PENERBIT      : PT Gramidia Pustaka Utama

TEBAL            : 271

ISBN               :  978-979-22-3655-2

 

Seperti yang telah aku sampaikan kepada teman-teman siswa kalas tiga SMP. Buku Totto chan adalah buku yang baik untuk dibaca bagi siswa atau pun bagi guru. Membaca buku ini membuat kita tidak akan jenuh. Kumpulan-kumpulan cerita yang dimuat dalam buku ini membuat sang pembaca tidak bosan karena sudah disusun dengan sebaik mungkin oleh sang penulis.

Mungkin bagi kalian terlalu lama aku membacanya, sampai dua minggu baru selesai. Diriku menikmatinya. Di samping tulisan buku ini bagus, juga jarang ada bahasa yang sulit untuk dimengerti kecuali nama-nama. Buku yang aku tulis ini adalah buku terjemahan dari bahasa Jepang.

Diriku salut pada penulis di samping dia orang yang menjadi aktor utama dalam buku ini, dia juga yang melarang memfilm dan mendramakan tulisannya ini. Alasannya karena pembaca sudah banyak. Orang yang sudah membacanya pasti mempunyai gambaran tersendiri untuk buku ini, sehingga penulis melarang memfilmkannya.

Penulis menceritakan kisah Totto chan kecil yang menemukan sekolah barunya. Aktor-aktor dalam buku ini yang aku sukai diantaranya ibu totto chan. Di samping dia seorang ibu dia adalah seorang yang memahami perasaan anaknya. Manfaat yang aku dapat ketika membaca karakter seorang ibu totto chan yaitu dia seorang yang tidak ingin melihat anaknya bersedih. Terutama ketika Totto chan dikeluarkan oleh kepala sekolah dengan cara memanggil ibunya. Ibunya mengatakan kepada Totto chan bahwa dia harus pindah kesekolah baru. Tanpa dia mengatakan sebab kepindahannya itu.

Tidak hanya itu yang dilakukan oleh ibunya. Dia pun pernah mengatakan secara tidak jujur kemana anjing kesayangannya itu menghilang. Walau pun Totto chan tahu bahwa anjing yang sudah menjadi temannya itu pasti sudah meninggal.

Di sekolah pertamanya, Totto chah dikeluarkan karena dia menjadi provokator pada teman-temannya yang tidak mengindahkan ibu guru yang ada di depannya sehingga guru yang ada di sekolah pertamanya itu memutukan mengeluarkan Totto chan. Beda halnya di sekolah barunya kepala sekolah yang disangka kepala stasiun, malah lebih memahami keadaan siswanya yang masih kecil-kecil itu.

Tomoe Gakuen adalah nama sekolah barunya. Sekolah yang didirikan oleh Mr. Kabayashi  yang mampu memahami jiwa siswanya  dengan menggunakan metode yang berbeda dengan sekolah lain, di jepang pada waktu itu.

Kepala sekolah yang di gambarkan dalam buku ini saharusnya menjadi suri tauladan bagi setiap guru pada saat ini. Dia adalah seorang pendidik siswa yang  mengupayakan agar mereka sama dengan yang lainnya. Dia tidak membeda-bedakan dengan yang lainnya seperti, ketika ada acara berenang di sekolahan Tomoe, semua siswa yang mandi agar membuka bajunya. Akira Takahashi yang bisa dibilang tubuhnya tidak akan tumbuh lagi (cebol) dia juga membuka bajunya dan berenang dengan teman-temannya. Tujuan kapala sekolah melakukan itu agar tidak ada yang merasa malu atas kekurangannya.

Pendidikan yang diciptakan kepala sekolah bukan hanya itu saja melainkan dia mendidik siswanya agak berfikir dewasa. Terutama yang paling aku kagumi kepada kepala sekolah yaitu ketika menyuruh para siswa memigang kapur dan menulis irama lagu yang akan dimainkan oleh kepala sekolah. Mereka menulis di lantai aula dengan sekendak mereka besarnya, setelah selesai mereka menghapus dan mengepelnya. Tujuan kepala sekolah melakukan hal ini agar mereka tidak mencoret-coret di sembarang tempat dan mereka menyadari betapa capeknya menghapus coretan-coretan itu.

Tidak hanya kepala sekolah dan ibunya yang aku kagumi, Totto chan pun juga. Walau pun dia dikeluarkan dari sekolah pertamanya namun di sekolah yang barunya dia menemukan apa arti kasih sayang guru pada muritnya. Masih dia ingat bahwa kepala sekolahnya itu mengatakan “ kau anak yang baik. Kau tau itu?” perkataan ini adalah mutifasi untuk Totto chan.

Totto chan adalah siswa yang sayang pada kepala sekolahnya. Pernah suatu ketika terbesit niat dalam hatinya, dia ingin jadi yang lebih pertama yang tergendong oleh kepala sekolahnya itu. Tapi setelah kepala sekolahnya itu datang, niatnya itu hilang dan dia pun duduk di hadapan kepala sekolahnya. Lalu dia mengatakan: Nanti saya ingin menjadi guru di sekolahanku ini.

Kacintaannya pun tidak hanya tertuju pada kepala sekolahnya melainkan pada teman-temannya juga dia tunjukkan.  Yang paling aku kagumi pada diri Totto chan di buku ini, ketika dia mengajak yasuaki-chan menaiki pohon kekuasaan Totto chan di sekolahannya. Totto chan berusaha menaikan temanya yang terkena penyakit polio. Totto chan bersusah paya menaikkan temannya untuk menaiki pohonnya. Dia telah menggunakan dua tangga untuk menaiki pohonnya itu. Dengan penuh perjuangan dia telah berhasil menaikan temannya itu.

Sebenarnya banyak sekali hal mural yang terkandung dalam buku ini terutama dari kepala sekolah. Buku ini mengajarkan banyak hal untukku terutama dalam mendidik siswa. Dan semuga buku ini bisa bermanfaat bagi pembaca yang lain terutama bagi orang yang mempunya lembaga pendidikan, supaya membaca buku ini dan menghayatinya.

Di akhir buku, penulis menjelaskan teman-temanya yang telah berpisah dengannya. Dari beberapa siswa yang ada di kelas Totto chan mereka kebanyakan sudah sukses. Walau pun sebagian dari cita-cita mereka ada yang tidak kesampaian.


Lanjutkan membaca “Buku Totto-chan”

Iklan

Ayam Bakar Ala Pontianak

Cerita tadi malam membuat saya tidak kurang bahagia karena disamping menghargai saya sebagai pendatang juga menghargai tempat kelahiran saya. Di Turenlah kebahagian tadi malam terjadi. Tempat yang berada di kawasan kebupaten Malang, Jawa Timur.

Tempat yang dulunya terkenal dingin ini, menurut orang Pontianak, sekarang sudah tidak lagi karena beberapa bulan ini tidak hujan. Namun bukan masalah hujan ini yang ingin saya bahas melainkan pemberian hormatan tak kurang hormat penduduk ini berikan pada saya.

Ceritanya begini, tadi malam saya diajak refreshing oleh satu guru. Saya tidak kurang tertawa sebenarnya di dalam hati karena setiap hari saya sudah refreshing kayaknya. Dengan libur ngajar dan kuliah saya anggap itu sebuah refresing namun beda bagi dia, dia menganggap berjalan-jalan, kewarung atau ketempat wisata itu yang dinamakan refreshing. Karena posisi saya diajak maka ikut saja refreshingnya.

Walaupun malam itu begitu dingin saya paksakan dengan menggunakan jaket yang lusut. Dengan menggunakan sepeda satria baja hitam saya meluncuk membuntutinya dari belakang.

Waktu itu sudah malam, pengendara di jalan tidak begitu banyak sehingga kemacetan tidak akan terjadi, pikir saya. Hal ini dimanfaatkan oleh guru itu dengan mengebut agar cepat sampai di tujuan. Di susul dengan saya yang mengendarai sepeda satria baja hitam yang tidak begitu terang lampunya membuat pengendara yang lain terkejut jika ada di samping saya.

Sesampainya di kafe kami bingung mau memesan apa karena yang kita cari dan di sepakat sebelumnya tidak ada. Niat awal kita hanyalah ingin ngopi dan makan camilan seadanya namun apalah nasip jika persoalannya memang begini jadinya.

Awalnya kami bingung untuk menentukan makanan yang ada di Menu Makanan dan Minuman itu. Yang tercatat di menu itu mahal-mahal yang kayaknya membuat satu guru itu menggerutu di dalam hatinya. Namun dibalik itu saya tersenyum dari beberapa macam makanan yang ada di menu itu ada masakan ala kelahiran saya. Sempat saya berbohong awalnya dengan menolaknya alasannya tidak enak padahal saya tidak pernah meraskannya.

Namun pada akhirnya kami memutuskan untuk memilihnya karena semua menu yang kami pesan sudah tidak tersisa lagi. Jadi kami bersepakat untuk memesan ayam gorong ala Pontianak itu.

Setelah semuanya dihidangkan oleh bidadari yang tidak begitu jelek tapi jutek. Saya perlahan mencubit kulit ayam itu. Dagingnya tidaklah sekeras seperti ayam kampung, dagingnya lembut dan gampang dibelah. Perlahan saya rasakan makanan ala Pontianak ini. Jika saya lihat dari bentuk makannyanya tidaklah begitu meyakinkan makanan ini enak namun setelah saya rasakan mulut tidak berhenti ingin mengunyahnya lagi. Ditambah sambelnya yang perlahan-lahan menggetarkan bibir dan memerahkan mata. Pokoknya mantaplah. Makanan inilah yang membuat saya bangga terutama namanya yang dikaitkan dengan tanah kelahiran saya.

Akhir cerita kami pulang dengan membawa penyesalan masing-masing. Kami tidak membawa apa-apa yang ada perut mules dan isi dompet menipis.

WhatsApp Image 2019-10-16 at 21.40.32

 

CERITA GOBLOK

“Aaduh, adaapa lagi ini?”gerutu saya di siang yang panas.

Jam menunjukkan 12:30 siang, waktu istirahat. Para masyarakat kampung pada antri  untuk mengambil sembako gratis dari pemerintah. Antrian ini sagatlah panjang dan melebihi antrian tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya memang panjang tapi tidak sepanjang ini. Melihati raut wajah melas yang keluar dari para orang yang antri membuat saya perihatin.

Antrian bartamba panjang dan para masyarakat yang ikut antri pada rebut. Sambil menoleh kedepan semuannya. Saya merasa kasihan kepada mereka di tengah-tengah teriknya matahari ini kenapa masih ada orang yang membuat mereka semuannya marah.

“Goblok”

“aaayu, cuk.”

Merekapun saling dorong-mendorong agar cepat selesai antrinnya dan bisa membawa sembako itu. Akupun juga merasa kesal melihati kemacetan antrian ini.

“Siapa yang membuat antran ini macet seperti ini? Orang gak tau diuntung, dasar goblok!” gerutu saya.

Di tengah-tengah antrian, saya tetap memandang wajah-wajah melas mereka. Di belakang, para panitia pada sibuk turun untuk mengatur barisanan antrian. Mereka menenangkan kekesalan para masyarakat.  Namun diantara banyaknya panitia yang mengatur ada satu yang dengan tenangnya berjalan menuju barisan saya.

“Pak, itu kenapa, pak?” Tanya saya mendahuluinya.

Panitia itupun tersenyum mendengar pertanyaan saya. Melihatinya tidak menjawab, saya bingung dan mengulangi pertanyaan itu,”Kenapa orang-orang di sana pada rebut, pak, sampai dorong-dorong seperti ini?”

Panitia itupun memigang kopiah yang dipakainya dan memukulkan pada jidad saya,”Aduh, cuk,”ujarku kaget.

“Kamu yang membuat mereka marah dan antri panjang, goblok,” ujarnya sambil memigang kedua pundak saya dan memutarnya ke depan. “Jangang menghadap kebelakang lagi, ya.”

Mendengarnya saya baru sadar bahwa yang mebuat masyarakat pada antri itu adalah saya.

Bergerak menurut Aristoteles

Jika kita mengetahui bahwa bergerak adalah suatu peralihan dari tempat atau duduk sedangkan pergerakan berarti orang menggerakkan sesuatu. Namun berbeda dengan Aristoteles. Dia membagi bergerak menjadi tiga.

Tulisan ini adalah lanjutan dari yang kemaren mengenai Tanakut tapi ini masuk pada bagian syarat yang potensial dan aktualisasi. Dari pembagian ini dapat diklarifikasikan menjadi dua macam¸ bergerak yang mana bendanya tetap dan bergerak yang  bendanya berubah. pergerakan ini mengikuti pemikirannya Aristoteles. Dan pemikiran inilah yang membuat sebagian orang menyenangi karangannya.

Pembagian bergerak ada tiga jika mengikuti pemikirannya:

1. Berpindah. Berpindah ini termasuk bergerak, contohnya, Andi mengendarai mobilnya dari Malang ke Surabaya. Lah, perpindahari dari Malang ke Surabaya adalah suatu pergerakan.

2.Tumbuh. Tumbuh juga dikatakan bergerak, contohnya, Manusia dari kecil ke dewasa, ini dinamakan bergerak. Atau biji sawi yang tumbuh menjadi sawi dewasa, contoh ini juga bergerak.

Contoh kedua pergerakan di atas ini walaupun berbeda dalam segi bergerak namun ada kesamaannya yaitu benda yang bergerak tetap tidaklah berubah bentuknya seperti kayu kecil yang menjadi besar dan manusia yang sebelumnya anak kecil menjadi dewasa atau besar.

3. Pontensial dan Aktulisasi. Setiap benda pasti bergerak namun bergeraknya ini berbeda dengan yang di atas tadi. Pergerkan ini melalui potensial dan aktualisasi. Contohnya Anggur adalah Cuka. Contoh ini jika dilihat dari pontensialnya maka benar, anggur mempunyai potensi menjadi cuka makannya dikatakan anggur adalah cuka namun secara potensial. Atau kita menggunakan contoh yang lainnya seperti kayu adalah buku. Kayu di sini berpotensi untuk dijadikan buku.. Sekarang aktualitas, contohnya tetap ‘Anggur bukan Cuka atau Kayu bukan Buku’. Dua contoh ini benar karena secara aktualisi benda itu berbeda dan bukan sama. Atau yang kayu, secara aktualitas kayu dan buku berbeda namun kalau di pandang secara potensial maka kayu berpotensi menjadi buku.

 

Catatan Malam Jum’at

Menjadi pendengar yang baik adalah suatu pekerjaan yang sangat sulit bagi sebagian orang. Menjadi orang seperti ini perlu konsentrai yang sangat baik dan pendengaran yang sangat bagus. Memahami suatu ucapan orang lain itu lebih sulit dari pada membaca karangan seseorang.

Menjadi pendengar yang baik memang perlu latihan dan keterbiasaan sehingga ketika menyampaikan ulang berita yang sudah didapat bias tersusun rapi dan tidak menimbulkan pertannyaan bagi pembaca atau pendengarnya.

Kabar atau berita yang disampaikan ulang terkadang terdapat kesalahan dan pertentangan atau kontaradiksi bagi pendengar. Hal ini biasanya disebabkan oleh sang pemberi berita karena dia tidak begitu jelas dalam mendapatkan berita itu. Entah dikarenakan lambat atau kurangnya pertannyaan yang diajukan kepada objeknya.

Keceroboan ini menimbulkan kesenjangan antara pendengar dengan pembicara. Terkadangan hal ini menimbulkan suatu hal sangat fatal bagi pembicara seperti yang dilakukan oleh seorang pencuri ketika diinterogasi oleh polisi jika dia terdapat kontradiksi dalam ucapannya pasti akan dihajar oleh polisi itu. Asalkan jika sebelumnya dia benar-benar tidak mengakui kesalahannya dan polisi mempunyai bukti kesalahannya.

Dalam berbicara sebenarnya ada cara bagaimana kata-kata kita itu tersusun dengan baik dan tidak bertentangan antar kalimat namun cara ini tidak bisa diterapkan cuma satu kali tapi perlu berkali-kali. Untuk menghindarinya kita harus menjauhi pernyataan yang membuat Tanakut (kontradiksi). Tanakut adalah berbedanya dua proposisi (dua kodiah) pada positif dan negatifnya dengan perbedaan yang meng haruskan benar salah-satunya dan salah yang lainnya.

Maksud dari pengertian di atas adalah jika terkumpul dua proposisi nigatif dan positif maka salah satunya harus benar dan yang lainnya salah. Dalam Tanakut tidak boleh dua proposisi itu benar semuanya dan tidak boleh salah semuanya. Dan jika salah semua atau banar semua maka kalimatnya tidak Tanakut atau kontradiksi. Contohnya “Emas adalah logam. Emas bukan Logam.dan Ali orang yang adil. Ali tidak adil. Dari dua contoh ini terdapat Tanakut karena saling bertentangan.

Untuk menghindari Tanakut kita harus mengetahui syarat-syarat tanakutnya dulu. Dengan mengetahuinya ktia bisa berhati-hati dalam menyatakan kalimat agar tidak kontradiksi antara satu kalimat dengan kelimat yang lainnya.

1.Subjeknya harus sama. Jika contohnya” Ibrohim adalah orang yang paham. Ibrohim bukan orang yang paham” maka contoh ini Tanakut dan jika contohnya “ibrohim adalah orang yang paham. Muhammad bukan orang yang paham” maka tidaklah Tanakut (kontradiksi) karena tidak berlawanan antara satu kalimat dengan kalimat selanjutnya. Karena bisa jadi Ibrohim adalah orang yang paham dan Muhammad bukan orang yang tidak paham. Alasannya karena subjeknya berbeda dan dalam Tanakut subjeknya harus sama.

2.Predikatnya harus sama. Jika contohnya Muhammad adalah orang yang bersungguh-sungguh. Muhammad tidak hadir” dua proposisi ini tidaklah dinamakan Tanakut walaupun subjeknya sama. Alasannya karena predikatnya berbeda dan bisa jadi Muhammad melakukan dua pekerjaan itu.

3.Waktunya harus sama. Jika contohnya “Hasan berpergian (sekarang). Hasan tidak berpergian (kemaren).” Maka kedua contoh ini tidaklah tanakut karena waktunya berbeda walaupun bertentangan pekerjaannya namun ini terjadi dilain waktu dan bisa dibenarkan dua proposisi ini.

4.Tempatnya harus sama. Jika contohnya “Usman duduk (di rumah). Usman tidak duduk(di pasar).” Dua proposisinya ini tidak bertentangan karena tempatnya berbeda. Dan ini benar semuanya tidak salah. Namun jika tempatnya sama baru ini dinamakan Tanakut.

5.Harus sama potensi dan aktualisasi, jika contohnya anggur adalah cuka (potensi). Anggur bukan cuka (aktualisasi). Dua proposisi ini tidaklah bertentangan namun kalau “anggur adalah cuka (potensi).anggur bukan cuka(potensi) maka contoh ini adalah tanakut karena sudah jelas bertentangan. Mengenai potensi dan aktualisasi saya akan bahas ditulisan selanjutnya.

6.Harus universal dan particular, jika contohnya “Orang negro adalah putih(sebagian). Orang negro tidak putih(semua). Contoh ini untuk perorangan bukan keseluruhan orang negro. “Orang negro adalah putih” maksudnya tidak semua badan orang negro putih tapi ada sebagian yang putih seperti giginya, kukunya, dan matanya. Sedangkan,” Orang negro tidak putih” maksudnya semua badan orang negro tidaklah putih semua, ada yang hitam, malahan banyakan yang hitam dari pada putihnya.dan jika contohnya, “Orang negro adalah putih (sebagian). Orang negro tidak putih( sebagian) ini tanakut (kontradiksi).

7.Harus sama penyebabnya, jika contohnya,”lutfi tidak berhasil dalam ujian (jika tidak bersungguh-sungguh). Lutfi berasil dalam ujian ( jika bersungguh-sungguh). Dua proposisi ini tilaklah bertentangan karena penyebabnya berbeda dan contoh ini benar semua tidak ada yang salah.

8.Harus sama relasinya. Contohnya “Umar adalah bapaknya Ali. Umar bukan bapaknya Ali” contoh ini Tanakut karena bertentangan dua proposisi ini dalam relasinya. Sedangkang jika contohnya,”Umar adalah bapanya Ali. Umar bukan bapaknya kosim” ini tidak didanamakan Tanakut karena tidak ada kontrasiksi antara keduanya.

Dari delapan syarat Tanakut di atas bisa kita gunakan untuk menghindari bahasa-bahasa yang bertentangan yang bisa membuat pendengarnya jengkel. Dengan berhati-hati bicara dan menyampaikan berita kita pasti bisa menghindari kalimat-kaliamat yang kontradiksi.

Anak angkat Abuya Hamka (patut ditiru)

Saya terinspirasi dari ucapan anak angkat Abuya Hamkah yaitu Yusuf Hamka,”Jangan mambantu orang  tapi menyusahkan orang lain” kata inilah yang keluar dari orang yang berumur 60 tahun itu. kata di atas itu menjadi filosofinya dalam menjual nasi yang dibeli dari warung-warung setempat.

Bayangkan dia dalam kesehariannya menyediakan makan 1000, porsi untuk dijualnya. Namun hal ini yang mebuat saya kagum atas ketegasannya dalam menentukan harga patut di cap jempol. Dia menjual sebungkus nasi dengan seharga 3000, saja.

Menurutnya di umur yang sudah 60 tahun ini selebihnya adalah bonus. Allah memberi rezeki setiap hari makanya saya ingin berbuat baik setiap hari dan bersedekah setiap hari. Namun dalam penjualannya dia buka hanya hari senin, kamis, dan jum’at saja.

Diri Yusuf Hamka masih kental dengan keyakinannya sehingga dalam penjualan dia tidak seperti pedagang yang lainnya yang mengambil untung yang banyak namun dia sebaliknya jika dia membeli satu bungkus nasi seharga 10.000 maka dia jual 3000 ribu. Lah, hal ini secara matematika sangan rugi sekali namun secara spiritual dia sangat untung.

Dia mengatakan bahwa ayah angkatnya (Abuya Hamka) mengajarkan” Nak, harta yang engkau makan  akan menjadi kotoran dan harta yang engkau tinggalkan akan menjadi rebuta dan warisan dan harta yang engkau sedekahkan akan jadi tabungan sepanjang masa di akhirat nanti.

Mendengar ucap-ucapannya saya ingin meniru perjuannya ‘Berjualan sambil sedekah’. Melihat Yusuf Hamkah dalam mengucapkannya dia sangat yakin bahwa tabungannya itu akan berdampak baik kelak diakhirat nanti ketika dia tutup usia.

 

Kliks https://www.youtube.com/watch?v=Ot6-Z0aFZsw

download (6)

 

 

CERPEN DI PERPUS

Cerita kemaren yang membuat saya sulit untuk melupakannya. Cerita ini saya dapatkan ketika ada di Perpustakaan Al-Qolam. Ketika itu ada palayan yang menurut saya sangat cantik. Dia pegawai baru yang menggantikan ibu pegawai yang sudah tua yang menurut saya sudah tidak pantas lagi. Wanita pangganti ini wajahnya masih asing dan tidak pernah kelihatan sepertinya.

“Bak …, apakah di sini ada buku filsafat ilmu?”  saya mencoba bertanya padanya.

Perempuan itu kaget melihati saya. Saya yang berbaju ala gembel dan celana sobek di lutut dia sangka saya maling, mengkin. Matanya melotot melihati saya ketika itu namun saya memandangnya tidak begitu juga. Saya melihati parasnya yang begitu cantik itu. Saya berfikir mungkin perempuan secantik ini baru saya temukan pada kali ini. Dan selama kuliah tidak ada perempuan seperti dia.

“Mungkin di sebelah timur itu, Mas …, coba sampean ke sana,” ujarnya sambil menunjuk.

Melihati tangan yang ditunjukkannya di sebelah mata saya membuat saya geregetan. Tangan yang kuning, berisi, dan  lembut, saya pandangi terus. Tidak sabar dengan tangan yang indah itu saya berusaha menggapainya dengan memegangi tangan itu sambil berkata,

“Ayo, bak …, antarkan saya ketempatnya,” ajak saya sambil memigang tanyannya.

Melihati tangannya saya sentuh, dia merasa geram. Orang-orang yang ada di tempat itu langsung melihati saya. Mereka memperlihatkan wajah-wajah yang geram juga. Melihatinya saya merasa gemetaran dan takut. Tidak terasa tangan wanita itu masih ada di genggaman saya. Melihati pandangan-pandangan itu saya semakin gemetaran dan semakin kuat juga genggam saya pada tangannya.

“MAS…, tolong lepaskan tanganku,” ujarnya sambil memberontak sedikit.

Saya pun berlagak tidak paham maksudnya walaupun terasa ayunan tangan lembutnya itu. Wajah saya pandangkan pada buku-buku yang ada di samping saya.

“MAS …! lepaskan tanganku!” teriyaknya sambil melayangkan tangan satunya pada pipi saya.

Melihati tangan yang sedang meleyang membuat saya tercengang. Tangan yang begitu besarnya beberapa detik lagi akan menempel di pipi, pikir saya. Dengan kekuatan penuh dia lepaskan tangannya itu sembari menggenggam jari-jarinya dengan kuat dan sekarang beberapa senti lagi akan menempel, menghinggap pada pipi saya.

“Dokk,” bunyi itu menghinggap di atas kepala saya.

Saya merasakan sangat sakit sekali. Saya usap perlahan-lahan kepala yang sakit itu dengan mata terpejam. Setelah saya buka ternyata buku setebal Kamus Munawwir telah jatuh di kepala saya yang lagi tidur enak di bawahnya.

Penulis : Khoiruddinalkafa

09183

Cerpen: Gadis Pondok

Semilir angin malam yang begitu kencang menghempas pintu Masjid yang tidak tertutup. Para insan banyak yang pulang. Lampu-lampu di serambi Masjid pun sudah dimatikan oleh takmir. Dan di dalamnya hanyalah terdiam dua insan satu jenis. Mereka menghadap kiblat sembari bermunajat kepada Allah SWT.

Setelah itu, bunyi ketukan terdengar oleh dua insan yang bernama Maya dan Linda itu. Bunyi itu terdengar di belakang mereka. Mereka pun menyudahi doanya dan bertoleh pada arah bunyi itu. dilihatinya seorang takmir tua sudah berisaroh agar Masjidnya dikunci dan dimatikan lampunya.

Di lihatinya takmir itu sudah bergegas memasang sandalnya untuk segera pulang. Sambil menoleh pada dua insani itu dia pamit pulang. Kini tinggal mareka berdua di dalam Masjid itu. mereka saling pandang-memandang dan tersenyum.

“Mungkin ada kabar, May, dari Rizki?” tanya Linda dengan lirih.

Memang sudah beberepa pekan ini Rizki tidak pernah kelihatan. Anak yang tinggal di samping  pondok mereka itu tidaklah meniggalkan pesan untuk Linda. Linda selaku pacarnya merasa kuatir dengan ketiadaannya. Entah apa yang akan Linda perbuat jika tidak bertemu dengannya selamanya. Surat cinta yang telah dia sediakan dari beberapa pekan yang lalu masih tersimpan menantinya, menunggu kedatangannya.

“Selama ini saya masih belum mendengar kabarnya, Lin” jawab Maya sambil tersenyum.

“Saya merasa kuatir dengannya, May, takutnya dia sakit. Saya sudah lama tidak melihatnya lewat atau ikut jamaah di Masjid ini.”

“Iya, saya paham perasaanmu, Lin, pasti kamu kuatir dengan ketiadaannyakan? tapi kamu harus tahu batasannya, Lin. Kita tidak bisa semenah-menah pacaran di sini. Apakah kamu tidak sadar bahwa kita ada dilingkungan pondok, bagaimana kalau ketahuan pengasuh atau tetanggakelakuan kamu itu?” ujar Maya.

Linda pun berdiri dan berjalan menghampiri jendela yang ada di samping kanannya. Dia tempelkan tngannya pada jendela kaca itu sembari memandang jalan aspar yang lagi sepi. Tidak ada bunyi lain yang dia dengar kecuali bunyi burung-burung kiai yang terdengar olehnya.

“Tapikan ini bukan urusan mereka! Mereka tidak berhak dong mengekang kami di dalam pondok. Jika mereka menetapkan peraturan untuk mengekang anak pondok tidak bercinta berarti mereka sama hanya menentang takdir Allah, dong? cinta tidaklah bisa kita buat, May! cinta itu timbul dengan sendirinya, murni. Makanya saya tidak suka aturan di pondok terutama pengekangan seorang untuk tidak bercinta.” ujar Linda yang masih tatap dalam pandangannya.

“Tujuan mereka bukan menghalangi kita bercinta, Lin, tapi mereka ingin agar kita itu terhindar dari yang namanya  zina. Dengan kita mendekatkan cinta pada seorang laki-laki maka kita tidak akan terelakkan dengan yang namanya zina,” ujar Maya sambil berdiri menghapirinya. “Tidak mungkin mereka menghalangi cinta, Lin, pastinya mereka tau bahwa setiap orang pasti mempunyai cinta tak terkecuali mereka. Tapi mungkin ini jalan terbaik bagi kita, Lin, dari mareka. Dan tidak mungkin mereka menentang takdir Allah yang sudah ditetapkan,” ujar Maya dari belakngnya sembari memigangi pundak Linda.

“Perlu kamu ketahui, Lin, di pondok manapun yang namanya pacaran itu di haramkan dan kamu harus bisa membedakan mana yang namanya pacaran atau cinta. Belum tentu orang yang pacara itu cinta, Lin, terkadang orang pacaran karena ingin melampiaskan sahwatnya dan itu sangat buruk sakali, Lin, makannya di pondok-pondok itu diharamkan oleh pengasuhnya yang namanya pacaran tapi kalau cinta tidak karena itu hal alami setiap orang pasti mempunyai tapi belum tentu dia terikat dengan yang di cintainya” tambah Maya.

Lampu rumah-rumah tetangga pun sudah mulai banyak dimatikan. Bunyi-bunyi burung berganti bunyinya jangkrik. Udarapun semakin dingin di Masjid itu tapi Maya dan Linda masih tetap di dalamnya. Dengan melihati Linda yang masih muram termengong memandangi aspal dan berharap rizki hadir di hadapannya Maya mengusar-ngusar pundaknya.

“Seandainya dia hadir di saat aku merenungiya seperti sekarang ini betapa bahagianya diriku. Walaupun satu kali saja bertemu,” gumam Linda.

“Udalah, Lin, jangan terlalu mikirin dia. Mungkin dia masih sibuk” ujar Maya.”Sekarang kita kembali saja ke pondok sudah malam orang-orang sudah pada tidur dan tidak mungkin Rizki keluyuran malam-malam suntuk begini. Kita tunggu saja besok siapa tau dia ada. Sekarang kita kembali ke pondok takut di cari pengurus” ujar Maya.

Akhirnya kedua insan itu memutuskan untuk pulang. lampu-lampu yang ada di Masjid itu mereka matikan dan pintu-pintu mereka tutup rapat sambil menguncinya. Sekarang masjid menjadi sepi seperti rumah kosong tanpa penghuninya.uuu.jpg

Penulis : Khoiruddinalkafa

 

 

 

BUDAYA MELAMBAT

Suatu ketika ada kiai yang mendapat undangan rapat dari para santrinya. Rapat itu dilaksanakan pada jam 08:00 pagi. Namun kiai itu masih tenang-tenang saja di rumahnya menunggu jam 09:00. Dan dia yakin bahwa rapat itu akan dimulai  jam 09:00 pastinya karena itu sudah menjadi budayanya.

Setelah jam 09:00 dia baru berangkat dan sesampainya di sana dia kaget, acara rapatnya masih belum dimulai. Bertanya kiai itu  pada santrinya,”Kenapa acaranya masih belum dimulai?”

Salah satu santri yang lebih tua menjawab,”Tadi kami masih menunggu yang lainnya, kiai”

Mendengar jawan itu kiai merasa heran. Dia diam sejenak sambil melihat para santrinya yang sudah bersiap untuk rapat. Setelah itu kiai itu bertanya,”Kan yang ikut rapat sudah datang semua, terus siapa lagi yang mau ditunggu?”

“Kami semua menunggu sampean, kiai, tadi. Makanya acaranya masih belum kami mulai.” Mendengar jawan itu kiainya menepuk dahinya sambil tersenyum.

 

Duduknya seorang Guru Agama

Suatu ketika ada seorang guru agama yang mendatangi sahabatnya di warung kopi. Sahabatnya adalah seorang intelektual. Mereka berdua duduk sambil berhadapan di satu meja. Seorang guru itu menaikkan satu kakinya di atas kursi dan memulai pembicaraan.

Guru agama                 : ”Kamu sekarang kerja apa kawan?” Tanyanya.

Seorang intelektual     : “Kerja kantoran. Kalau kamu?” intektual menanyakan balik.

Guru agama                 : ”Jadi guru agama.”

Inteltual                       : ”Memangnya pelajaran apa yang akan kamu berikan pada siswamu?”

Guru agama                 : ”Akhlak!”

Intelektual                   : ”Hentikan kamu ngajar akhlak, kawan!”pintanya.

Guru agama                 : ”Kok bisa, Apa yang salah dengan saya?”

Intelektual                   : ”Akhlak kamu nanti tambah kurang, kawan.” Jelasnya sambil ketawa.”Coba lihat duduk kamu, bedakan dengan orang berakhlak?”

Guru agama itupun terdiam lalu melihat posisi duduknya seketika dia tersenyum sadar dengan satu kakinya.

2w

CERPEN: PETANI DAN TUANNYA

“Sudah beberapa hari ini tempatnya belum pernah hujan. Jalan-jalan dan halaman rumah sekarang berdebu. Kalau pagi banyak asap yang memedihkan mata. Jika tempat kita selalu begini nanti persedian air kita akan habis. Padahal kita sangat butuh sekali yang air”ujar Ibrohim pada Rahmat.

Pada pagi itu Matahari baru menampakkan cahayannya. Ibrohim dan Rahmat sudah lama ngobrol di kursi tokoh sayuran Aida perkiraan mereka duduk di situ dari selesai sholatnya Subuh.

“Kita hanya bisa berharap, pak” ujar Aida, penjual sayuran itu.

“Maksud kamu berharap gimana, Aida? Barang kita ini jauh dari perkotaan. Jalan kita masih belum diaspal, kecil, dan banyak pepohannya lagi, bagaimana ada bantuan yang mau ke sini?”balas Rahmat.

“Sudah-sudah, hari sudah makin siang kita pamit pulang dulu. Masih banyak pekerjaan yang masih saya dan Rahmat yang harus dikerjakan”ujar Rohim.

Rohim dan Rahmat pun pulang. Mereka merasa hari sudah sudah makin siang dan mereka ingin segera memulai pekerjaannya sebagai petani. Sebenarnya rumah mereka tidaklah jauh dari tokoh itu tapi mereka bergesah pulang takut terkena marah kepala desanya.

Sudah dua bulan mereka merawat Jahe kepunyaan kepala desanya. Setiap hari mereka harus menjaga tanaman itu. Dari membersihkan daun-daun yang mati hingga memupuknya. Dan juga menyiram setiap pagi dan sore.

Namun, sekarang adalah musim kemarau yang berkepanjangan dan membuat mereka hawatir terhadap tanaman itu. Terbukti kehawatiran mereka, tanaman yang mereka rawat sekarang rusak dan daun-daunnya banyak menguning. Mereka sekarang tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Usaha mereka sebelumnya  tidaklah menemukan hasilnya.

Mereka sadar bahwa sebentar lagi tuannya yaitu kepala desa akan datang untuk melihat tanammnaya. Tak kebayang bagi mereka jika tuannya itu melihat tanamannya rusak seperti itu. pastinya dia akan di marahi dan mereka akan di potong gajinya atau di berhentikan dari perkerjaannya.

Sesudah mereka selesai menyiram tanaman itu ternyata firasat mereka benar, tuannya datang dengan ajudannya. Mereka datang menaiki sepeda motor ketempat itu.  Seperti bisanya ajudannya membawa buku kecil sebagai catatan. Dan tuannya berkata,”Selamat sore,” ujarnya memulai.

“Sore, pak”jawab Rohim dan Rahmat berbarengan.

Melihati para pekerjanya berpeluh, dia tersenyum. Dia merasa, tidak percuma mengeluarkan uang beratus ribu tiap bulannya untuk mereka. Mereka memang sungguh-sungguh dalam bekerja, pikirnya.

Pandangan tuannya sekarang tidaklah terfokus pada dua pekerja itu lagi melainkan pada tanamannya yang berubah. Mukanya sekarang menjadi berubah, muram dan bengis. Senyumannya hilang membuat Rahmat dan Rohim terdiam.

“Apa yang kalian lakukan terhadap tanaman ku ini?”Tanya kepala desa itu geram sambil menunjuk dengan sepatu botnya.”Kalian mau merus tanamanku ini?”ujarnya  lanjut.

“Titidak, tuan” ujar Rahmat dengan gugup.

“Kenapa bisa bengini?”ujarnya dengan lantang. “Pokoknya saya tidak mau tau kalian harus menggantinya kalau tidak, kalian harus berhenti dari sini. tanaman ini sudah tidak layak lagi untuk dijual. Ini sudah rusak. Kalian tidak beccus mengawatnya.”

“Berhenti saja kalian!” tambahnya.

Melihat kemarahan tuannya itu Rahmat pun pucat seketika. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun mereka tidak salah tetapi tetap saja dia dan Rohim yang akan disalahkan oleh tuannya itu. Dia hanya terdiam dan terpaku di tempatnya semula.

Melihati temannya yang pucat, rohim yang ada di belakang tuannya termengong dan teringat dengan nasib anaknya yang masih sekolah. Dia perlu uang banyak untuk membiayai anaknya sekolah apa lagi sekarang hampir-hampir UN, pikirnya.

Rohim tidaklah bepikir positif lagi sekarang. Dia tidak memandang nasip dia dan keluarganya kebelakang. Dia berpikir mungkin, Cuma dia yang akan menjadi pertaman dan terakhir melawan kezholiman kepala desannya. Mungkin orang-orang yang sudah dizholimi oleh tuannya tidak bisa melawan karena takut keluarganya tidak makan tapi dia sekarang tidak takut dengan hal itu dia akan membuktikan dengan melawannya.

“Setttt” bunyi arit tertusuk di punggung tuannya.

Serentak Rahmat menoleh pada bunyi itu. Dilihatinya sudah berlucuran darah dari punggung tuannnya. Dan dia terjatuh sambil memegang punggung yang tertusuk itu sembari merengik kesakitan. Ajudannya ketika melihat  kejadian itu langsung lari terbirit-birit. Dia takut terkena arit juga yang masih dipegang oleh Rohim. Tidak lama dari itu, akhirnya tuannya pun mati mengenaskan dengan punggung berdarah.

panen.jpg